UJIAN NASIONAL UNTUK APA?
Maraknya berita tentang jual beli soal dan beredarnya kunci jawaban Ujian Nasional SMA dan SMP semakin mempertegas adanya jarak atau kesenjangan antara pengambil kebijakan dan realitas dunia pendidikan Indonesia.
Kebijakan pemerintah yang setiap tahun senantiasa meningkatkan standar kelulusan, diikuti dengan ragam upaya kalangan dunia pendidikan untuk mengimbangi dan dapat meluluskan peserta ujian dengan cara apapun. Artinya, kondisi yang ada sekarang sebenarnya bisa dipahami sebagai sesuatu yang secara laten memang ada di dunia pendidikan kita sejak lama sekali.
Bahwa sekarang terekspos sedemikian rupa, hal ini disebabkan kemudahan penyebaran informasi dan semakin mudahnya akses ke sekolah. Pada masa lalu, pengawas ujian yang di-“oplos” antar sekolah masih memungkinkan membuka permainan dan kemudahan dengan harapan sekolah asal pengawas itu juga diberi “keleluasaan” oleh pengawas dari sekolah lain yang ditugaskan disana. Lalu akar persoalannya apa?. Kalau melihat penyebaran kasus kebocoran soal dan kunci jawaban, sekilas terlihat bahwa sebagian besar muncul di kota menengah dan kota kecil. Bisa jadi karena :
- Model soal pada Ujian Nasional “sangat metropolis”, dalam arti sangat relevan dengan kelengkapan sarana/prasarana pendidikan di kota. Bagi sekolah pinggiran yang miskin, model kurikulum yang ada tidak mungkin ditransfer kepada peserta didiknya secara utuh akibat keterbatasan sarana/prasarana pendidikan
- Keberdayaan murid dalam melengkapi penunjang belajarnya lebih mudah dan mampu di kota, karena secara ekonomi mereka rata-rata lebih baik. Kalaupun tidak memiliki sendiri, akses dan keberadaan perpustakaan rata-rata lebih baik di kota
- Pendidik terbaik ada di kota. Meski ada beberapa penghargaan kepada guru di daerah terpencil, toh ujian nasionalnya tidak ada yang khusus daerah terpencil
Walhasil, model pelaksanaan ujian nasional sangat perlu di evaluasi secara menyeluruh agar pemerintah benar-benar dapat memberdayakan rakyat, bukan sekedar meningkatkan prestise karena telah mampu meningkatkan standar kelulusan. Jangan-jangan sama dengan kondisi suatu Kabupaten yang pernah deklarasi Bebas Buta Aksara, nyatanya saat Pemilu yang baru lalu sangat menyolok terlihat bahwa masyarakat yang buta aksara sebenarnya masih sangat tinggi….